Kamis, 23 Mei 2013

Budidaya Tanaman Hortikultura

Budidaya Tanaman Hortikultura

Budidaya tanaman hortikultura khususnya cabe merah, kol dan tomat biasanya lebih cocok dilakukan di dataran tinggi seperti di wilayah pegunungan. Namun, ternyata budidaya tanaman yang kini harganya tengah melonjak itu, juga cocok dilakukan di dataran rendah. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Karangmoncol, telah membuktikannya.
Koordinator BPP Karangmoncol Tri Yuwanto disela-sela acara panen cabe oleh Bupati Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si, Sabtu (16/3) di lahan demplot (demontrasi plot) mengungkapkan, dengan luasan lahan 0,14 hektar yang ditanamai cabe merah, tomat dan kol mampu menghasilkan laba bersih Rp 3,2 juta. “Keuntungan itu masih bertambah karena untuk tanaman cabe dan tomat, masih bisa dipanen lagi,” kata Tri Yuwanto.


Dijelaskan Tri Yuwanto, dari hasil analisa budidaya untuk luas lahan 0.14 hektar dibutuhkan biaya sebesar Rp 9,5 juta. Biaya ini untuk sewa lahan, upah dan biaya budidaya. Luasan lahan itu dibuat bedeng tanaman sebanyak 10 bedeng untuk tanaman cabe tumpangsari dengan kol bunga, 14 bedeng tanaman cabe monokultur dan 11 bedeng tanaman tomat monokultur.  Dari hasil budidaya tersebut, lanjut Tri Yuwanto, tanaman cabe mampu menghasilkan panen sebanyak 665 kilogram dalam enam kali panen, kemudian tomat 670 kilogram yang dipanen dalam waktu 10 kali, dan tanaman kol 3 kali panen menghasilkan 64 kilogram.
“Hasil penjualan panenan tersebut seluruhnya mendapat uang Rp 12,8 juta. Jadi setelah dikurangi modal yang besarnya sekitar Rp 9,5 juta menghasilkan keuntungan sekitar Rp 3,2 juta,” rinci Tri Yuwanto.
Tri Yuwanto menambahkan, budidaya tanaman hortikultura khususnya di dataran rendah menjadi peluang usaha sendiri. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah tentang pembatasan impor sejumlah komoditas  hortikultura. “Demplot yang kami budidayakan ini tentunya menjadi contoh para petani dalam menerapkan teknologi usaha tani yang lebih produktif dan memanfaatkan peluang kebutuhan produk hortikultura,” tambah Tri Yuwanto.
            Sementara itu Bupati Heru Sudjatmoko usai melakukan panen cabe mengungkapkan, budidaya tanaman cabe dan tomat bukanlah hal baru. Tetapi dengan penerapan teknoloi sesuai anjuran petugas penyuluh pertanian, akan mampu menghasilkan produksi yang bagus dan menghasilkan keuntungan. Bupati heru menilai, produk para petani kita tidak kalah dengan produk impor.
“Dalam berbagai kesempatan, saya mengimbau agar tidak usah membeli produk pertanian dari impor. Tidak perlu bangga jika mengkonsumsi hasil pertanian impor. Belilah hasil panen petani sendiri. Dengan cara itu, maka akan membantu menaikan taraf hidup para petani,” imbau Bupati Heru yang juga cawagub Jateng dari PDIP ini.
Dibagian lain, Heru juga mengajak kepada para penyuluh pertanian untuk terus memberikan bimbingan kepada para petani. Lahan yang subur juga dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jangan ampai petani sampai kekurangan pangan. “Kalau uang ada, namun tidak ada bahan pangan yang dibeli kan percuma. Oleh karenanya, para petani teruslah meningkatkan produksi pertaniannya dibawah bimbingan para penyuluh,” tambah Heru Sudjatmoko.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar